Rabu, 24 Oktober 2018

Wuwung Seng Tetap Exis





WUWUNG SENG TETAP EKSIS
DI ZAMAN MODERN


Gambar 1.3

     Seni bangunan kuna sudah ada  sejak dulu antara lain arsitektur rumah–rumah tradisional dan tempat ibadah, pada puncak-puncak atas  atap bangunan rumah tradisional terutama pada rumah joglo dan masjid  banyak dijumpai hiasan yang membuat bangunan tersebut indah dan menawan.
     Wuwung seng merupakan industri rumahan yang kini sedang berkembang dan telah banyak dikenal yang fungsinya untuk mempercantik dan memperindah atap bangunan,tapi wuwung seng juga dapat alternatif penutup kerpus bocor.
     Sebenarnya banyak bahan yang dapat digunakan untuk wuwung seng ini selain dari seng, antara lain anda bisa menggunakan bahan galvalum, stainless, alumunium, ataupun tembaga. Masing-masing dari bahan tersebut mempunyai kelebihan masing-masing dan harga yang bervariasi.
     Wuwung tiap-tiap daerah mempunyai ciri  sendiri-sendiri, usaha pembuatan wuwung telah dilakukan pada tahun 1940an oleh para pengrajin wuwung seng Karang Tengah, wuwung seng memiliki harga yang bermacam-macam  dari 60-100 ribu rupiah . Penyebaran wuwung seng khas Desa Karang Tengah sudah terkenal hingga Jawa Timur dan Jawa Barat.”kata Suharto.


 Hari Kurnia Budianto, 1650700005, 5a









































































































Macam Kerajinan Kota Surakarta


BATIK BIRU BULU INOVASI MODERN



 Gambar 1. Salah satu hasil produksi batik di Batik Biru Bulu


Batik biru bulu merupakan suatu buah hasil kerajinan tangan oleh keluarga Bp. Suyitno beserta ibu Riaynti. Usaha ini berdiri sejak enam tahun lalu. Pada awalnya Bp.Suyitno yang merupakan salah satu dosen salah satu fakultas di UNS mencoba berinovasi mengenai apakah bahan-bahan yang berasal dari lingkungan seperti daun indigo, kayu secang  kayu tegeran,tingi bisa untuk mewarnai suatu batik.

Nama batik biru bulu itu pertamanya batik ini merupakan suatu riset oleh Prof.Suyitno yang merupakan istri dari ibu Riyanti yang mana ia menjadi pelaku usaha batik ini. Ikon dari batik ini adalah warna biri yang berasal dari daun indigo, kemudian untuk bulu ini merupakan nama yang diambil dari nama tempat dimana ia tinggal yaitu kecamatan Bulu. Kabupaten Sukoharjo

Menggunakan pewarna alam seperti daun indigo, kayu tegeran, secang, jambal dan juga tingi. Ini dipilih karena yang alami itu sudah pasti aman dan tidak membuat lingkungan sekitar tercemar

Untuk memperoleh pewarna di sini mudah karena menanam sendiri. Untuk daun indigo menanam sendiri di lahan yang dimiliki, untuk bahan kayu baru mengembangkan maka masih membeli di toko, sedang secang ini mencari di lingkungan sekitar. Target produksi dalam satu bulan adalah 1000 pcs namun  produksi didalamnya hanya dapat mencapai 800 pcs per bulan
Batik disini termasuk ke dalam jenis batik cap dan batik tulis. Untuk motif ini terbilang sangat banyak, karena disini selalu bereksperimen. untuk memenuhi pasaran, yang sedang trend itu seperti apa maka bisa dipilih dijadikan motif.

Saat ini pemasaran dari hasil produksi batik ini  sudah mencapai pasar luar negeri . Ini diterima dengan baik dipasaran karena produk yang alami serta dapat bersaing dengan produk-produk serupa. Lama Pembuatan batik  tergantung pada batik apa yang akan dikerjakan, batik cap  untuk 5 potong dapat dicapai dalam sehari, untuk batik tulis dalam 1potong membutuhkan waktu satu minggu. Jika menginginkan warna yang dobel membutuhkan waktu 3 hari.

              Yang membuat batik ini beda adalah dari segi kualitas dan warna. Batik alam lain cenderung memiliki warna yang kurang sempurna namun disini sudah mendekati sempurna. Dari segi kelunturan disini sudah kuat, juga karena konsumen sering beramsumsi bahwa batik yang berpewarna alam ini mudah luntur, sehingga di rumah produksi disini diciptakan suatu produk yang tidak mudah luntur.

 Rahmad Tsani Indarto , 1650700004, 5A (sinarpublications.blogspot.com)